Vitamin D Sinar Matahari atau Vitamin D dari Makanan?

Diposting pada

Vitamin D Sinar Matahari atau Vitamin D dari Makanan

Vitamin D adalah vitamin yang bersumber dari paparan sinar matahari. Sinar matahari tersebut menyumbang sekitar 80% kebutuhan tubuh akan vitamin D. Vitamin D terdiri dari 2 jenis, yaitu vitamin D2 dan vitamin D3.

Vitamin D3 inilah yang sebenarnya disebut dengan vitamin matahari. Secara otomatis tubuh Anda akan mengubah Vitamin D dari sinar matahari untuk kemudian berubah menjadi Calcitriol. Calcitriol akan langsung disalurkan ke hati dan ginjal untuk menghasilkan vitamin D3 (kalsiferol) yang dibutuhkan oleh tubuh.

Vitamin D juga sangat mudah ditemukan. Pada bahan-bahan makanan yang mengandung nabati seperti jamur, kelapa, kacang almond dan kacang kedelai kelapa. Tumbuhan tesebut memproduksi vitamin D2 nya mereka sendiri dengan cara mengolah vitamin D yang mereka terima dari sinar matahari.

Lalu, sumber terbaik vitamin D adalah?

Menurut penelitian kandungan vitamin D dalam sinar matahari sebenarnya jauh lebih baik. Jika dibandingkan dengan vitamin D yang bersumber dari berbagai bahan makanan.

Ketika didapat pada waktu yang sama dengan porsi yang sama, kadar vitamin D2 (ergokalsiferol) turun drastis. Setelah 14 hari, sementara kadar kalsiferol justru memuncak pada hari ke-14. Dan tetap stabil sampai 28 hari setelah asupan pertama.

Maka dari itu, vitamin D3 lebih efektif untuk membantu tubuh untuk cepat menyerap kalsium. Yang merupakan nutrisi penting untuk kesehatan tulang.

Kalsiferol telah terbukti lebih efektif dalam menjaga kepadatan tulang pada orang dewasa usia lanjut sehingga mengurangi risiko patah tulang, jika dibandingkan dengan ergokalsiferol (vitamin D2).

Selain itu, vitamin D3 juga dilaporkan dapat mengurangi risiko penyakit jantung, nyeri sendi, depresi, kanker pankreas, kanker payudara, hingga kanker kulit.

Baca ini juga:  Bagaimana Merawat Bibir Yang Selalu Lembut Dan Menggoda?

Terlalu sering terkena paparan matahari juga tidak baik.

Walaupun vitamin D3 dari sinar matahari terbukti lebih baik oleh banyak penelitian, bukan berarti Anda boleh berlama-lama bermandikan matahari. Menurut Badan Kesehatan Dunia atau biasa disebut World Health Organization menyatakan bahwa kita memerlukan terpapar sinar matahari secara langsung dalam waktu 5 sampai dengan 15 menit dalam kurun waktu 3 kali seminggu.

Berjemur lebih lama dari yang direkomendasikan dan tanpa perlindungan yang cukup justru berbahaya. Paparan radiasi UV berlebihan dapat meningkatkan risiko kulit terbakar matahari, kanker kulit, hingga stroke yang dapat berakibat mematikan.

Sinar matahari yang direkomendasikan oleh para ahli adalah mulai dari pukul 10 pagi hingga pukul 2 sore. Waktu ini dianggap waktu yang paling tepat untuk mendapatkan manfaat sinar matahari sementara mengurangi risiko bahaya radiasi.

Meski begitu, mendapatkan asupan vitamin D dari sumber makanan juga tetap penting, terutama bagi orang-orang yang aktivitas hariannya berkutat di dalam ruangan dan jarang terpapar matahari. Oleh sebab itu, langkah yang paling tepat  untuk mendapatkan vitamin D yang cukup adalah dengan cara menyeimbangkan antara pola makan sehat dan juga aktivitas fisik di luar ruangan (contohnya, dengan berolahraga).

 

Baca ini juga...